Syafaat

November 1, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata : “Apabila ada orang yang datang kepada Nabi SAW untuk meminta pertolongan, maka beliau memandang siapa saja yang berada di hadapannya dan bersabda : “Berilah pertolongan, niscaya kamu akan memperoleh pahala, karena Allah selalu memenuhi apa yang diucapkan oleh nabi-Nya apapun yang disukainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Apapun yang dikehendakinya.”

2. Dari Ibnu Abbas ra., ia menceritakan tentang Barirah dan suaminya : “Nabi SAW bersabda kepada Barirah : “Andai saja kamu mau kembali kepada suamimu.” Barirah berkata: “Wahai Rasulullah, engkau menyuruh saya?” Beliau bersabda : “Tidak, saya hanya menganjurkan.” Barirah menjawab : kalau begitu saya tidak ingin kembali kepadanya.” (Barirah adalah isteri Mughtis. Keduanya hamba sahaya. Ketika Barirah merdeka; ia berhak meneruskan perkawinan atau melepaskan, sedangkan suaminya masih mencintainya. Oleh karena itu, Nabi SAW menganjurkan: “Andai saja kamu mau kembali kepadanya, kasihan suamimu.” Ini contoh Syafaat, atau suatu usaha kebaikan dengan jasa-jasa baik) (HR. Bukhari)

Iklan
Kategori:Bab Syafaat

Mendamaikan Orang yang Bersengketa

November 1, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda : “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari, (sebagai pernyataan syukur kepada Allah atas keselamtan tulang-tulangnya. Dan macam sedekah itu banyak sekali), di antaranya berlaku adil di antara dua orang yang bersengketa, membantu teman ketika menaiki tunggangannya atau menaikkan barang temannya ke punggung tunggangannya, ucapan yang baik, setiap langkah yang kamu ayunkan untuk melakukan salat adalah sedekah dan menyingkirkan sesuatu yang merugikan di jalan, juga sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’aith ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Bukan pendusta orang yang mendamaikan orang yang sedang bersengketa, karena ia bermaksud baik atau berkata baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim ada tambahannya, yaitu : Ummu Kultsum berkata : “Saya tidak pernah mendengar beliau membolehkan orang berkata dusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: Di dalam peperangan, dalam mendamaikan orang yang sedang bersengketa dan seseorang yang menceritakan keadaan istri atau suaminya (untuk menjaga hubungan baik keduanya).

3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mendengar suara orang yang bertengkar amat keras di depan pintu. Salah satunya ada yang meminta keringanan (hutang) dan meminta bantuan kepada yang lain, tetapi yang mengutangi menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan memenuhi permintaanmu.” Kemudian Rasulullah SAW keluar dan mendekati keduanya dan bertanya : “Mana yang bersumpah dengan nama Allah untuk tidak akan berbuat kebaikan?” Ia menjawab : “Saya wahai Rasulullah.” Maka bagi orang itu apa saja yang disukainya.” (HR. Bukhari dan Muslim) hlm. 274 1 (terjemahannya apakah salah ?) Meminta untuk dikurangi hutangnya dengan cara yang baik. 1 Sesungguhnya Allah melarang mempergunakan nama Allah untuk menghalangi berbuat kebaikan. Sebagaimana firman- Nya yang artinya : “Janganlah kamu menjadikan nama Allah, sebagai penghalang dalam sumpahmu tidak akan berbuat kebaikan, dan takwa atau mendamaikan di antara manusia.”

4. Dari Abu Abbas Sahl bin Sa`idiy ra. , ia berkata :” Rasulullah SAW mendengar berita, bahwa di kalangan Bani `Amr bin `Auf terjadi persengketaan, maka Rasulullah SAW, bersama beberapa sahabat pergi ke sana untuk mendamaikan mereka. Setelah selesai mendamaikan beliau dijamu padahal waktu salat telah tiba, maka Bilal datang kepada Abu Bakar ra., dan berkata : “ Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah SAW, sedang ditahan untuk dijamu oleh Bani`Amr, bagaimana jika kamu menjadi imam bagi orang-orang yang akan mengerjakan salat?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah, jika kamu menghendaki demikian.” Kemudian Bilal mengumandangkan iqamah, lalu Abu Bakarpun maju dan bertakbir, dan orang-orangpun ikut bertakbir. Tiba-tiba Rasulullah datang berjalan di tengah-tengah shaf dan berdiri pada shaf pertama. Orang-orang bertepuk tangan memberikan isyarat, tetapi Abu Bakar tidak menoleh di dalam salatnya. Ketika orang-orang ramai bertepuk memberi isyarat iapun menoleh dan melihat Rasulullah SAW. Beliaupun memberi isyarat kepadanya agar ia meneruskan salatnya, tetapi Abu Bakar ra. mengangkat tangannya seraya memuji Allah dan melangkah mundur sehingga ia berdiri pada shaf pertama. Rasulullah SAW lalu maju dan meneruskan salatnya menjadi imam. Setelah salat usai, beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Wahai sekalian manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu di dalam salat kalian bertepuk tangan? Padahal tepuk tangan itu untuk perempuan yang memberi isyarat. Siapa saja yang mengalami sesuatu di dalam salat hendaklah ia membaca: “SUBHANALLAH” (Maha Suci Allah). Dan bagi imam jika mendengar bacaan “SUBHANALLAH” hendaklah ia menoleh. Hai Abu Bakar, mengapa engkau tidak meneruskan menjadi imam ketika aku memberikan isyarat kepadamu?” Abu Bakar menjawab: “Tidaklah selayaknya bagi anak Abu Quhafah untuk menjadi imam di hadapan Rasulullah SAW (HR. Bukhari dan Muslim)

Memenuhi Kepentingan Orang Islam

November 1, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya dan jangan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan sesama muslim, niscaya Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya pada hari kiamat. Siapa saja yang menutupi kejelekan seorang muslim Allah akan menutupi kejelekannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan yang dialami orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya pada hari kiamat. Siapa saja yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya baik di dunia maupun di akhirat. Siapa saja yang menutupi kejelekan seorang muslim, maka Allah akan menutupi kejelekannya di dunia dan di akhirat, dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh jalan guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan siapa saja yang berkumpul di salah satu rumah Allah Ta’ala dengan membaca kitab-Nya dan memperdalam kandungannya, maka akan turunlah kepada mereka suatu ketenangan dan mereka selalu diliputi rahmat dan para malaikat selalu memohonkan ampun buat mereka, kemudian Allah menyebut-nyebut siapa saja yang berada di sisi-Nya. Dan siapa saja yang lambat beramal, maka ia tidak akan cepat meraih derajat.” (HR. Muslim)

Menutupi Aib Saudara Muslim

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Umatku akan mendapat ampunan, kecuali orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antaranya, orang berbuat dosa di malam hari dan pada pagi hari ia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi. Ia bercerita : “Hai fulan, saya tadi malam berbuat begini dan begitu.” Sesungguhnya malam itu Allah telah menutupi perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri perbuatannya yang telah Allah tutup. (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Jika seorang budak melakukan zina dan nyata zinanya, hendaklah ia didera dan jangan diejek. Jika ia berbuat zina lagi, maka deralah ia dan jangan diejek. Jika ia berbuat zina untuk kali ketiga, maka juallah ia walaupun seharga tali yang terbuat dari bulu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ada seseorang yang minum-minuman keras, kemudian dihadapkan kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda : “Pukullah orang itu.” Abu Hurairah berkata: “Di antara kami ada yang memukulnya dengan tangan, sandal dan kain. Tatkala orang itu akan pulang, sebagian orang berkata : “Semoga Allah menghinamu.” Maka beliau bersabda : “Janganlah kalian berkata seperti itu, jangan kalian membantu setan.” (HR. Bukhari)

Menjunjung Kehormatan Umat Islam

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Musa ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu bagian dengan yang lain saling mengokohkan.” Sambil memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Musa ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang berjalan di masjid dan pasar sedangkan ia membawa anak panah, hendaklah ia menyembunyikan atau memegang ujungnya agar jangan sampai mengenai (mengganggu) seseorang diantara umat Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mencium cucunya Al-Hasan bin Ali. Waktu itu Al-Aqra’ berada di hadapan beliau, kemudian Al-Aqra’ berkata : “Wahai Rasulullah, saya mempunyai sepuluh orang anak, dan belum pernah kucium seorangpun.” Rasulullah SAW menoleh kepada Al-Aqra’ seraya bersabda : “Siapa saja yang tidak mau mengasihani, maka tidak akan dikasihani.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Beberapa orang Badui datang menghadap Rasulullah SAW, sebagian bertanya kepada yang lain “Apakah kamu biasa mencium anak-anakmu? Sebagaian menjawab: “Ya,” dan yang lain ada yang menjawab : “Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Bagaimana jika Allah mencabut rasa kasih sayang dari kalian ? (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang tidak mengasihi sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang dari kamu menjadi Imam salat bagi orang banyak hendaknya ia memperingan (mem percepat)nya, karena di antara mereka, ada orang yang lemah, ada yang sakit dan ada pula yang sudah lanjut usia. Apabila ia salah sendirian, perpanjanglah sesuai kemampuannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “karena di antaranya ada yang mempunyai keperluan lain.”

8. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Apabila Rasulullah SAW meninggalkan amal yang beliau sukai, hal itu dikarenakan beliau khawatir jika umat Islam menganggap, bahwa amal itu diwajibkan atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

9. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Nabi SAW melarang umat Islam puasa wishal (bersambung siang malam), dikarenakan rasa sayang terhadap mereka.” Para sahabat berkata : “Sesungguhnya engkau sendiri berpuasa Wishal.” Beliau menjawab : “Sesungguhnya keadaanku lain dengan keadaanmu. Aku selalu diberi makan dan minum oleh Tuhanku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya : Aku diberi kekuatan oleh Allah sebagaimana kekuatannya orang yang makan dan minum.

10. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rabiiy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Ketika saya sedang salat dan hendak memperpanjangnya, tiba-tiba mendengar tangisan anak kecil, maka kusegerakan salat, karena tidak ingin merepotkan ibunya.” (HR. Bukhari)

11. Dari Jundub bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang mengerjakan salat Subuh berjamaah, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, jangan sampai Allah meminta jaminan sedikitpun. Dan siapa saja yang dituntut jaminan-Nya, maka Allah akan menemukan, kemudian menjerumuskannya ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari)

12. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim, jangan mengkhianati, mendustai dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi)

14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, saling menipudan saling membelakangi, dan jangan menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Sesama muslim bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya, membiarkan dan menghinanya. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya, beliau mengucapkan tiga kali). Seseorang cukup dianggap jahat, apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim) Berpaling dan acuh serta menjadikannya seperti sesuatu 1 yang dibelakang punggung.

15. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Tidaklah dianggap sempurna iman seseorang, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

16. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tolonglah saudaramu yang berbuat aniaya dan yang teraniaya.” Kemudian ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika ia teraniaya, lalu bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat aniaya?” Beliau menjawab : “Kamu cegah atau kamu larang dia dari berbuat aniaya. Demikianlah cara menolongnya.” (HR. Bukhari)

17. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangannya dan menjawab apabila ia bersin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan, Rasulullah bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam, yaitu: Apabila bertemu, ucapkanlah salam. Apabila ia mengundangmu, penuhilah undangannya. Apabila ia meminta nasihat, nasihatilah dia. Apabila ia bersin kemudian ia membaca “alhamdulillah”, maka jawablah (dengan ucapan “yarhamukallah” (semoga Allah mengasihimu). Apabila ia sakit, jenguklah dan apabila ia meninggal iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

18. Dari Abu ‘Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah SAW menyuruh dan melarang kami, dalam tujuh hal. Yaitu, beliau menyuruh kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengiring jenazah, menjawab orang yang bersin ketika mengucapkan Alhamdulillah, menepati sumpah, menolong orang yang teraniaya, mendatangi undangan dan menyebarluaskan salam. Kemudian beliau melarang kami dari memakai cincin emas, minum dari bejana perak, memuji- memuji keledai, bersikap keras, mengenakan kain sutera baik sutera tipis maupun yang tebal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Dan menanyakan barang yang hilang.” Sebagai tambahan tujuh yang pertama.

Perintah Tidak Berbuat Aniaya

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah kalian pada kezaliman karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat, dan takutlah kamu pada kekikiran sebab orang-orang sebelum kalian binasa karena kekikiran, dan hal itulah yang menyebabkan mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan yang haram.” (HR.Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kalian pada hari kiamat diperintahkan untuk mengembalikan semua hak yang diambil kepada yang berhak, sehingga kambing yang tidak bertanduk karena ditanduk yang lain, diberi hak untuk membalas kepada kambing yang bertanduk.” (HR.Muslim)

3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Ketika kami memperbincangkan haji Wada’, Nabi SAW berada di antara kami. Kam i belum tahu apakah sebenarnya haji Wada’ itu. Tiba-tiba Rasulullah SAW memuji dan menyanjung Allah serta menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, sambil memperpanjang ceritanya, beliau bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia memperingatkan umatnya. Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya, demikian pula dengan Nabi sesudahnya. Ketika Dajjal keluar di tengah- tengah kalian, maka apapun sifat yang disembunyikannya, niscaya terungkap bagi kalian. Sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta mata sebelah, tetapi Dajjal matanya buta sebelah kanan, seperti buah anggur. Ingatlah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan darah dan hartamu sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya ?” Para sahabat menjawab : “Ya.” Kemudian Nabi berdoa : “Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah! Berhati-hatilah dan ingatlah, jangan kalian kembali kafir sepeninggalku, ketika salah seorang di antara kalian membunuh yang lain!” (HR.Bukhari)

4. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang mengambil hak orang lain walaupun hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.” (HR.Bukhari dan Muslim)

5. Dari Abu Musa ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah memberi kebebasan kepada orang yang berlaku aniaya, tetapi apabila datang siksaan-Nya, maka ia tidak akan dapat menghindarinya, kemudian beliau membaca ayat : “WAKADZAALIKA AKHDZU RABBIKA IDZAA AKHADZAL QURAA WAHIYA DZAALIMATUN INNA AKHDZAHUU ALIIMUN SYADIID” (Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras).” (HR.Bukhari dan Muslim)

6. Dari Mu’adz ra., ia berkata : Rasulullah SAW mengutus saya sebagai gubernur Yaman. Beliau berpesan : “Sesungguhnya kamu akan menghadapi kaum ahli kitab, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka mematuhi ajakanmu, beri tahukan kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan untuk mereka mengerjakan salat lima kali sehari semalam. Apabila mereka telah mematuhinya (memenuhinya), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan untuk mereka menunaikan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang- orang fakir miskin. Apabila mereka telah mematuhinya, maka lindungilah kehormatan dan harta bendanya. Takutlah kam u terhadap doa orang yang teraniaya karena tidak ada tirai yang menghalangi antara doanya dengan Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

7. Dari Abu Humaid Abdurrahman bin Sa’ad As-Sa’idiy ra., ia berkata : “Rasulullah SAW menugaskan seseorang dari suku Azdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah untuk mengumpulkan sedekah, tatkala orang itu datang kepada beliau, ia berkata : “Ini untuk engkau, dan ini hadiah untuk saya.” Rasulullah SAW kemudian berdiri di atas mimbar, dan membuka khutbahnya dengan menyanjung Allah SWT., sambil melanjutkan khutbahnya : “Sesungguhnya aku telah menugaskan seseorang di antara kalian, tugas itu diberikan Allah kepadaku, kemudian ia datang dan berkata : “Ini untuk engkau dan ini hadiah untuk saya.” Andaikata ia memang benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya, sehingga hadiah itu diberikan padanya. Demi Allah, siapa saja di antara kalian yang mengambil sesuatu yang bukan haknya niscaya di hari kiamat ia menghadap Allah sambil memikul yang diambilnya di dunia. Demi Allah, saya tidak ingin melihat seorang pun di antara kalian menghadap- Nya dengan memikul unta, lembu, atau kambing yang mengembik.” Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya hingga terlihat putih ketiak beliau, seraya bersabda : “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya ?“ (HR.Bukhari dan Muslim)

8. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia minta maaf Semarang juga sebelum datang saatnya dinar dan dirham tidak berguna. Jika tidak, apabila ia mempunyai amal saleh, maka amalnya akan diam bil sesuai dengan kadar penganiayaan, namun apabila ia tidak mempunyai amal kebaikan, maka kejahatan orang yang dianiaya itu diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)

9. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

10. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra., ia berkata : “Kirkirah adalah orang yang menjaga perbekalan Nabi SAW Ketika ia meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda : “Tempatnya di dalam neraka.” Para sahabat kemudian menyelidiki sebab musabab ia masuk neraka, kemudian mereka menemukan sebabnya, bahwa ia pernah menyembunyikan mantel hasil ram pasan perang.” (HR. Bukhari)

11. Dari Abu Bakrah Nufa’i bin Al-Harits ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya masa itu berputar, sebagaimana ketika Allah menjadikan langit dan bumi. Setahun, dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah bulan mulia, yang tiga berturut-turut, yaitu : “Dzulqo’dah, Dzul hijjah dan Muharram, serta bulan Rajab, di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. Kemudian Nabi bertanya : “Bulan apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka, akan diganti dengan yang lain. Beliau bersabda : “Bukankah ini bulan Dzul hijjah ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Negeri apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam , sehingga kami menyangka, akan diganti dengan nama yang lain. Beliau bersabda: “Bukankah ini tanah Haram?” Kami menjawab: “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Hari apakah ini ?” Kam i menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka, kalau-kalau akan diganti dengan nama yang lain. Kemudian beliau bersabda: “Bukankah ini hari Nahr ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau lantas bersabda: “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatanmu adalah mulia, sebagaimana mulianya hari, negeri dan bulanmu ini. Kamu semua akan bertemu dengan Tuhanmu dan Dia akan m empertanyakan tentang segala amal perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai kamu berbalik menjadi kafir sepeninggalku, di mana salah seorang di antara kalian membunuh yang lain. Ingatlah, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, mungkin saja orang yang diberi tahu itu lebih taat dari orang yang langsung mendengarnya.” Kemudian beliau bersabda : “Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya ?” Kami menjawab : “Ya.” Beliau bersabda : “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Dari Abu Umamah Iyas bin Tsa’labah Al-Haritsiy ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah benar-benar mewajibkan neraka baginya dan diharamkan surga untuknya.” Setelah seorang sahabat bertanya : “Walaupun yang dirampas itu sesuatu yang amat sedikit wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Walau sekecil batang kayu arok.” (HR. Muslim)

13. Dari ‘Adiy bin ‘Amirah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang kami serahi tugas, lalu ia menyembunyikannya walaupun sekecil jarum atau lebih kecil dengan maksud untuk mengambilnya, kelak di hari kiamat ia datang dengan membawa apa yang disembunyikannya.” Berdirilah seorang kulit hitam dari sahabat Anshar, yang seakan-akan saya pernah melihatnya, ia kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, terimalah kembali tugas yang telah engkau serahkan kepada saya.” Beliau bertanya : “Mengapa demikian ?” Ia menjawab : “Karena saya mendengar engkau bersabda begini dan begitu.” Beliau bersabda : “Sekarang saya tegaskan siapa saja yang saya serahi tugas, maka ia harus melaksanakannya, baik mendapatkan hasilnya sedikit maupun banyak. Dan apa saja yang diberikan kepada dirinya, maka ia boleh mengambilnya dan apa yang dilarang untuk dirinya, maka janganlah ia mengambilnya.” (HR. Muslim)

14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika perang Khaibar selesai, beberapa sahabat Nabi SAW pulang dan mereka menyebut-nyebut, bahwa si Fulan mati syahid, sampai akhirnya mereka bertemu dengan seseorang di jalan, mereka mengatakan: “Si Fulan mati syahid.” Kemudian Nabi SAW bersabda : “Tidak, saya telah melihatnya berada di neraka karena ia menyembunyikan kain mantel hasil rampasan perang yang belum dibagi.” (HR. Muslim)

15. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’iy ra., dari Rasulullah SAW, waktu itu beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat dan mengatakan, bahwa berjihad (berjuang) di jalan Allah dan beriman kepada Allah adalah paling utama amalnya. Kemudian seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau saya terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Rasulullah SAW menyatakan : “Ya, apabila kamu terbunuh di jalan Allah sedangkan kamu tabah, hanya mengharapkan pahala dari Allah, bersemangat dan pantang mundur.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya : “Bagaimana pertanyaanmu tadi ?” Ia menjawab : “Bagaimana seandainya saya terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Maka Rasulullah SAW menjelaskan : “Ya, apabila kamu tabah, hanya mengharapkan pahala dari Allah, bersemangat dan pantang mundur, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril mengatakan yang demikian itu kepadaku.” (HR. Muslim)

16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tahukan kalian orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa salat, puasa dan zakat, tetapi ia suka mencaci maki, menuduh, makan harta orang lain, menumpahkan darah, serta memukul orang lain. Kemudian pahalanya diberikan kepada orang yang dianiayanya. Jika kebaikannya sudah habis sedangkan kesalahan-kesalahannya belum terbayar, maka ia dilemparkan di tengah-tengah orang-orang yang pernah dianiayanya, yang akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

17. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa sedangkan kalian mengadukan persoalan kepadaku. Mungkin salah seorang di antara kalian lebih pandai menjelaskan hujjah (argumentasi)nya daripada yang lain, kemudian saya putuskan baginya sesuai keterangan yang saya dengar. Maka, siapa saja yang telah aku menangkan dengan mengalahkan yang benar, itu berarti sama saja saya memberinya sepotong (bagian) api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

18. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : Orang mukm in senantiasa berada dalam kelapangan dalam agamanya, selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.” (HR. Bukhari)

19. Dari Khaulah binti Tsamir Al-Anshariyah, ia adalah istri Hamzah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang menyalahgunakan harta Allah (baitul mal), di hari kiamat mereka dim asukkan neraka.” (HR. Muslim)

Perintah Menunaikan Amanah

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu : apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia berkhianat.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Walaupun ia berpuasa dan mengerjakan salat serta mengaku bahwa dirinya muslim.”

2. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bercerita tentang dua peristiwa ; yang pertama saya sudah mengetahui kenyataannya, sedangkan yang kedua itu saya masih menunggunya. Pertama beliau bercerita bahwa amanat itu datang ke lubuk hati manusia, kemudian turunlah Al –Qur’an maka mereka mau mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua, beliau menceritakan tentang dicabutnya amanat, yaitu : “Ada seseorang laki-laki yang sedang tidur kemudian dicabutlah amanat itu dari hatinya, sehingga sisa sedikit saja, kemudian ia tidur lagi maka tercabut pula sisa amanat itu, dan yang ada hanya bekasnya seperti bara api yang terinjak telapak kaki dan menimbulkan bengkak, sedangkan kamu melihat bahwa di situ tidak ada apa-apa.” Sambil memberi contoh, beliau lalu mengambil batu kecil dan diinjak dengan kakinya. Setelah itu orang-orang seperti biasanya (berjual beli), tetapi tidak terdapat lagi orang-orang yang jujur (amanat). Sehingga kalau ada seseorang yang dapat dipercaya dan mendapat pujian : Alangkah sabarnya, alangkah cerdiknya, dan alangkah pandainya, padahal menurut beliau di dalam hatinya tidak sedikitpun terselip keimanan walau sebesar biji sawi.” Hudzaifah berkata : “Sungguh saya telah mengalami suatu masa, di mana saya tidak memilih orang dalam ber-bai’at, bila ia seorang muslim, ia patuh dan ta’at pada agamanya. Apabila ia Nasrani atau Yahudi, ia takut kepada hukum negara. Adapun kini, saya tidak bisa mempercayai dalam berbai’at kecuali kepada si fulan dan si fulan.” (HR.Bukhari dan Muslim)

3. Dari Hudzaifah dan Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Allah Yang Maha Memberi Berkah lagi Maha Tinggi, kelak akan mengumpulkan manusia, kemudian orang- orang mukmin berdiri di dekat surga. Mereka lalu mendatangi Nabi Adam as. dan berkata : “Wahai bapak kami, bukakan pintu surga ini untuk kami.” Beliau menjawab : “Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga adalah dosa bapakmu? Datanglah kepada Ibrahim Khalillullah.” Merekapun mendatanginya, tetapi beliau menjawab : “Itu bukan hak-ku, aku hanyalah khalillullah (kekasih Allah) dan berada di belakang sekali, datanglah kepada Musa! Karena Allah berfirman langsung kepadanya.” Merekapun mendatanginya, tetapi beliau menjawab: “Itu bukan hak-ku. Datanglah kepada Nabi Isa Kalimah dan Ruhullah ! “ Maka Isapun menjawab : “Itu bukan bagianku.” Kemudian mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW, dan diminta untuk membuka pintu surga, beliau berdiri dan diizinkan untuk membukanya, kemudian dilepaskanlah amanat dan kasih sayang dan keduanya itu berada di kanan kiri beliau sebagai titian menuju ke surga. Beliau bersabda : “Orang pertama yang melewatinya, berjalan secepat kilat.” Hudzaifah bertanya : “Apakah ada yang berjalan secepat kilat ?” Beliau menjawab : “Bukankah kalian dapat membayangkan bagaimana berjalan hanya sekejap mata ? Kemudian ada seseorang yang melewatinya bagaikan terbangnya burung dan ada pula yang melintasinya bagaikan orang yang berlari kencang sekali. Semua itu, menurut beliau, tergantung amal perbuatan mereka.” Sedangkan Nabi Muhammad SAW berdiri di atas shirat (titian) seraya berdoa : “Wahai Tuhanku, selamatkanlah-selamatkanlah.” Sehingga sampai pada giliran orang-orang yang amal baiknya sedikit bahkan sampai datang seseorang yang tidak bisa berjalan melainkan dengan merangkak. Dan di antara kedua tepi shirat (titian), tergantung alat-alat yang dibuat dari besi, dan bertugas mengambil orang-orang yang harus diambilnya. Di antaranya ada orang yang terluka tetapi selamat dan ada pula orang- orang yang dicakar-cakarnya lalu dilemparkan ke dalam api neraka.” Menurut Abu Hurairah : “Sesungguhnya dasar neraka Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” (HR.Muslim)

4. Dari Abu Khubaib Abdullah bin Az-Zubair bin Al-Awwam Al- Qurasyi ra., ia berkata : “Tatkala Az-Zubair (ayahku) berdiri pada perang Jamal, ia memanggilku maka akupun berdiri di sampingnya. Ia berkata : “Hai anakku, sesungguhnya hari ini tidak ada yang terbunuh kecuali orang yang menganiaya atau teraniaya. Saya merasa hari ini saya akan dibunuh teraniaya, dan yang paling saya takuti adalah hutang saya, apakah kamu menyadari bahwa hutang itu akan meninggalkan sisa dari harta kekayaan kita ?” Kemudian ia berkata : “Hai anakku, juallah semua harta benda yang kita miliki dan lunasilah hutangku itu !” Juga berwasiat, bahwa sepertiga dari hartanya, sedang sepertiganya dari sepertiga itu diwasiatkan untuk cucu-cucunya yakni untuk anak-anak Abdullah bin Az- Zubair. Anak-anak az-Zubair waktu itu ada delapan belas orang, sembilan laki-laki dan sembilan perempuan. Menurut Abdullah : Az-Zubair selalu berwasiat untuk melunasi hutangnya. Ia berkata : “Hai anakku, seandainya kamu tidak mampu untuk melunasinya, maka hendaklah memohon pertolongan kepada Pemimpinku.” Abdullah berkata : “Demi Allah saya tidak mengetahui apa yang dimaksud olehnya, sehingga saya berkata : “wahai ayahku siapa Pemimpinmu?” Ia menjawab : “Allah.” Abdullah berkata : “Maka demi Allah, seandainya saya mengalami kesulitan dalam melunasi hutangnya saya berdoa : “Wahai Pemimpin Zubair , lunaskanlah hutangnya.” Akhirnya ia dapat melunasi hutangnya. Abdullah mengatakan : “Setelah itu terbunuhlah Az-Zubair, dan ia tidak meninggalkan dinar ataupun dirham, kecuali beberapa bidang tanah di Ghobah, sebelas buah rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, satu buah rumah di Kufah dan sebuah rumah di Mesir. Hutang itu disebabkan seseorang yang datang dengan membawa harta dan menitipkan kepadanya, kemudian Az- Zubair berkata : “Tidak, saya tidak senang dititipi, khawatir kalau hilang, tetapi saya hutang saja.” Sebenarnyalah Az- Zubair tidak pernah menjadi petugas penarik pajak, dan ia selalu ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Ustman ra. Lanjutnya, setelah saya hitung ternyata saya mempunyai hutang dua juta dua ratus ribu.” Kali tertentu Abdullah bin Hizam bertemu dengan Abdullah bin Az-Zubair dan berkata : “Wahai keponakanku, berapakah hutang saudaraku?” Saya sembunyikan dan saya mengatakan : “Seratus ribu.” Hakim berkata : “Demi Allah, saya tidak tahu apakah engkau dapat melunasinya ?” Abdullah berkata : “Bagaimana pendapatmu apabila hutangnya mencapai dua juta dua ratus ribu ?” Ia menjawab : “Saya tidak tahu apakah kamu dapat melunasinya atau tidak, jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah bantuan kepadaku.” Menurut Abdullah : “Az-Zubair dulu membeli tanah Al-Ahobah seharga seratus tujuh puluh ribu.” Abdullah bermaksud untuk menjualnya seharga satu juta enam ratus ribu, kemudian ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang menghutangi Az- Zubair, maka saya akan melunasinya, dan datanglah kepada kami di Ghobah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far ra., ia menghutangi Zubair sebanyak empat ratus ribu, dan ia berkata kepada Abdullah : “Kalau kamu mau, saya tidak akan menagihnya kepadamu.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau kamu suka, lunasilah belakangan.” Abdullah bin Zubair berkata : “Tidak.” Abdullah bin Ja’far menjawab : “Abdullah bin Ja’far berkata : “Kalau begitu berilah saya sebagian tanah di Ghobah ini.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau begitu, kamu mendapat bagian dari sini sampai sini.” Abdullah kemudian menjual sisa hutan itu untuk melunasi hutang ayahnya dan masih tersisa empat setengah bagian. Kemudian ia datang ke tempat Mu’awiyah. Waktu itu di tempat Mu’awiyah ada beberapa orang, yaitu ‘Amr bin Utsman, Al-Mundzir bin Zubair dan Ibnu Zam’ah. Mu’awiyah pun bertanya kepada Abdullah : “Hutan itu dijual berapa?” Abdullah menjawab : “Setiap bagian seratus ribu.” Mu’awiyah bertanya : “Masih tersisa berapa ?” Abdullah menjawab : “Masih tersisa empat setengah bagian.” Al-Mundzir bin Zubair berkata : “Kalau begitu saya mengambil sebagian dengan harga seratus ribu.” Demikian pula dengan Ibnu Zam’ah : “Saya mengambil sebagian dari seratus ribu.” Kemudian Mu’awiyah bertanya : “Masih sisa berapa ?” Abdullah menjawab : “Masih tersisa satu setengah bagian.” Mu’awiyah berkata : “Saya yang mengambilnya dengan harga seratus lima puluh ribu.” Kemudian Abdullah bin Ja’far menjual bagiannya kepada Mu’awiyah dengan harga enam ratus ribu. Setelah Abdullah bin Zubair selesai melunasi hutang ayahnya, maka putri-putri Az-Zubair berkata : “Bagilah warisan kami.” Abdullah menjawab : “Demi Allah, saya membagi untuk kalian sebelum empat tahun, sebab pada setiap musim, saya akan menyiarkan siapa saja yang menghutangi Zubair hendaknya datang kepada kami, dan kami pasti akan melunasinya. Demikianlah, pada setiap tahunnya Abdullah menyiarkannya. Sesudah melewati empat tahun maka Abdullah membagi harta warisan itu dan mengambil sepertiga yang diwasiatkan. Dan Az-Zubair meninggalkan empat istri, masing-masing mendapat bagian satu juta dua ratus ribu. Jadi semua kekayaan Az-Zubair berjumlah lima puluh juta dua ratus ribu.” (HR.Bukhari)