Arsip

Archive for the ‘Bab Sabar’ Category

SABAR

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim Al-Asy`ariy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, salat itu adalah cahaya, sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan Al Quran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya, kemudian ada yang mem bebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (H.R Muslim)

2. Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata: “Ada beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW, maka beliau memberinya, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun mem berinya sehingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka : ”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku sembunyikan pada kalian. Siapa saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah pun akan menjaganya dan siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah pun akan memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang melebihi kesabaran.” (H.R Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang mukmin, apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (H.R Muslim)

4. Dari Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit keras, Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.” Kemudian beliau bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita sakit lagi setelah hari ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra. berkata : “ Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan Tuhan. Wahai ayahku, surga Firdauslah tempat kem balimu. Wahai ayahku, kepada Jibril kami memberitakan wafatmu.” Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra. berkata : “Apakah kalian menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam Rasulullah SAW ?” (HR. Bukhari)

5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, (dia adalah pelayan,kekasih dan anak kekasih Rasulullah SAW ) ia berkata : “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahwa anaknya sedang sakaratul maut, maka kami diminta untuk datang, kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda : “Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .” Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi SAW, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar beliau berkenan hadir. Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa sahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit itu kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka meneteslah air mata beliau, kemudian Sa’ad bertanya : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?” Beliau menjawab : “Tetesan air mata adalah rahmat yang dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.” Dalam riwayat lain disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba- Nya yang mempunyai rasa sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah SAW bersabda : “Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada rajanya : “Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan mengajarinya ilmu sihir.” Raja itupun mengirimkan seorang pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan seorang pendeta (Pada masa itu, yang dimaksud dengan kata ar-rahib atau pendeta, adalah pendeta yang masih kuat memegang ajaran Tauhid dan menyembah Allah SWT), kemudian pemuda itu berhenti untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si pendeta itu berkata : “Apabila kamu takut terhadap tukang sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargam u menahanmu, dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu.” Suatu hari ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak berani meneruskan perjalanan. Pada saat itulah si pemuda berkata : “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah yang lebih utama ataukah pendeta ?” Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : “Ya Allah, apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orangpun dapat meneruskan perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun dapat m elanjutkan perjalanannya. Ia lalu mendatangi pendeta itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui, dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebut- nyebut namaku.” Setelah itu pemuda tadi dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang, dan berbagai jenis penyakit lain. Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan membawa beraneka macam hadiah dan berkata : “ Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya penuhi semua permintaanmu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang, tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta’ala. Apabila engkau beriman kepada Allah Ta’ala niscaya saya akan berdo’a kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu.” Maka berimanlah orang itu kepada Allah Ta’ala dan sembuhlah penyakitnya. Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya kepadanya : “Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?” Ia menjawab : “Tuhanku.” Sang raja berkata : “Apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu langsung menyiksanya sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya : “Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa berbuat ini dan itu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnnya yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang pendeta, maka dipangillah pendeta itu. Raja itupun berkata kepadanya : ”Kembalilah kamu kepada agamamu semula.” Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya terbelah dua. Kemudian dipanggilah kawan raja itu dan dikatakan kepadanya : “Kembalilah pada agamamu semula.” Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala sampai badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : “Kembalilah pada agamamu semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia diserahkan kep ada pasukan dan memerintahkan untuk membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula. Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasukan itu pun m embawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di sana pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga pasukan tadi bergulingan dari atas gunung. Pemuda itu mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : “Apa yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah menghindarkan saya dari kejahatan mereka.” Pemuda itu ditangkapnya dan diserahkan kembali kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkanlah saya dari kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki.” Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka. Pemuda itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja bertanya lagi keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah menghindarkan aku dari kejahatan mereka.” Kemudian pemuda itu berkata kepada sang raja : “Sesungguhnya engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau memenuhi permintaanku.” Raja bertanya : “Apakah yang engkau inginkan ?” Pemuda itu menjawab : “Engkau harus mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan saliblah saya di atas sebuah tiang, kemudian ambillah anak panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya, kemudian bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini,” kemudian lepaskanlah anak panah itu ke arahku. Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan berhasil membunuhku. “ Mendengar yang demikian, raja itu mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya kemudian ia membaca : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini,” dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga serentak orang-orang berkata : “Kami beriman dengan Tuhannya pemuda itu .” Ada seorang yang menyampaikan berita itu kepada sang raja seraya berkata : “Tahukah engkau, apa yang engkau khawatirkan sekarang telah menjadi kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman .” Kemudian raja itu memerintahkan membuat parit yang besar pada setiap persimpangan jalan, di dalam nya dinyalakan api, kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau kembali pada agama semula, maka akan dilemparkan ke dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit, akan tetapi bayi itu berkata : “Wahai ibu, sabarlah, karena engkau berada dalam kebenaran .” (HR. Muslim)

7. Dari Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai seorang wanita sedang menangis di atas kubur, maka beliau bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah !” Wanita itu berkata : “Pergilah dairi sini karena sesungguhnya engkau tidak tertimpa musibah sebagaimana yang aku alami !” Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata adalah Nabi. Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kalau itu adalah Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah Beliau SAW dan ia tidak menjumpai para penjaga pintu, sehingga dengan mudah ia memasukinya kemudian ia berkata : “Saya tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah engkau.” Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu hanyalah pada hari pertama dari musibah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi anaknya yang baru meninggal.”

8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Tidak ada balasan kecuali surga bagi hamba-Ku yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali kekasihnya dari ahli dunia, dan ia hanya mengharapkan pahala dari-Ku.” (HR. Bukhari)

9. Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wabah penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian beliau memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan yang ditimpakan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka seseorang yang tetap tinggal pada suatu daerah yang kejangkitan wabah dan ia sabar serta hanya memohon kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa wabah kecuali Allah akan menakdirkannya, maka ia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.” (HR.Bukhari)

10. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan kubutaan pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga .” (HR. Bukhari)

11. Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra. berkata kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita yang termasuk ahli surga ?” Saya menjawab tentu saja saya mau. “ Ia berkata : “Adalah wanita berkulit hitam yang pernah datang kepada Nabi SAW, waktu itu berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah agar penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian bersabda : “Apabila kamu mau sabar maka kamu akan masuk surga, dan apabila kamu tetap meminta maka saya pun akan berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu.” Wanita itu menjawab : “Kalau begitu saya akan bersabar.” Kemudian wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya terbuka karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada Allah agar aurat saya tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa untuknya agar auratnya tidak terbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia berkata : “Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah SAW, sewaktu menceritakan salah seorang dari para Nabi ketika dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia mengusap darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, ia berkata : “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duripun niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya .” (HR. Bukhari dan Muslim)

14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke tempat Nabi SAW, waktu itu beliau sedang sakit panas. Kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau benar-benar menderita sakit yang sangat panas. “ Beliau memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita kalian.” Saya bertanya : “Kalau begitu engkau mendapat pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab : “Benar, memang demikianlah keadaannya.” “Seorang muslim yang tertimpa suatu kesakitan, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu, niscaya Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang berguguran dari pohon.” (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)

16. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah : “Ya Allah, biarkanlah saya hidup apabila hidup lebih baik bagiku, dan matikanlah saya apabila mati itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa .” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan sorbannya sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang- orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat .”

18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata : “Setelah perang Hunain Rasulullah SAW mendahulukan orang-orang yang terkemuka didalam membagi rampasan perang. Beliau memberikan masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin Habis dan kepada ‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian rampasan perang pada beberapa hari itu, yang didahulukan oleh beliau beberapa pemuka Arab. Ada seorang laki-laki yang berkata : “Demi Allah sesungguhnya pembagian rampasan perang ini tidak adil dan nampaknya semata-mata bukan karena Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benar- benar akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW” Kemudian saya datang kepada beliau dan menceritakan apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah beliau bagaikan kesumba merah, kemudian bersabda : “Siapakah yang adil bila Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak adil ?” Beliau bersabda lagi : “Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada Nabi Musa karena beliau telah disakiti hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“ Saya berkata : “Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan berita semacam itu lagi kepada beliau sesudah peristiwa itu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

19. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang baik, maka ia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan menuntutnya pada hari kiamat .” (Perawi tidak tercantum)

20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR. Tirmidzi)

21. Dari Anas ra., ia berkata : “Abu Thalhah mempunyai anak yang sedang sakit. Sewaktu Abu Thalhah pergi, anaknya meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya : “Bagaimana kondisi anak kita ?” Ummu Sulaim, ia menjawab : “Anak kita lebih tenang.” Kemudian isterinya menghidangkan makanan lalu Abu Thalhah pun makan. Selesai makan, isterinya berkata : “Kuburkanlah anak itu !” Kemudian pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya : “Apakah tadi malam kamu bersetubuh dengan dengan isterimu ?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian Rasulullah SAW mendoakan keduanya : “Ya Allah mudah- mudahan Engkau memberkahi keduanya.” Selang beberapa bulan, isterinya melahirkan bayi laki-laki. Kemudian Abu Thalhah menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu kepada Nabi SAW dengan menyertakan beberapa kurma. Setelah sampai di hadapan Nabi, beliau bertanya : “Adakah sesuatu yang disertakan bersama bayi ini ?“ Ia menjawab : “Ya, beberapa buah kurma.” Beliau mengambil kurma-kurma itu, dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali dari mulut beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu. Ia diberi nama Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu Uyainah berkata : “Ada seorang sahabat Anshar yang berkata : “Saya melihat ada sembilan anak yang kesemuanya telah pandai membaca Al-Quran.” Salah seorang di antaranya adalah Abdullah.”
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan : “Sewaktu anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu Sulaim berkata kepada segenap keluarganya : “Janganlah kalian menceritakan peristiwa anakku kepada Abu Thalhah sebelum saya sendiri menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya segera menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu Thalha, setelah itu isterinya mengajak bercanda sehingga bersetubuh dan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Setelah isterinya tahu bahwa suaminya telah kenyang dan puas, maka berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada sekelompok orang yang meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga kemudian orang itu meminta kembali pinjamannya, apakah pantas keluarga itu menolaknya ?” Abu Thalhah menjawab : “Tidak pantas.” Isterinya berkata : “Relakan putramu.” Abu Thalhah marah-marah seraya berkata : “Kenapa kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh denganmu, barulah kamu memberitahu tentang anak kita.” Kemudian Abu Thalhah pergi dan datang kepada Rasulullah SAW serta menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Semoga Allah memberkahi apa yang telah kalian lakukan tadi malam .” Selang beberapa bulan hamillah isterinya. Setelah itu Rasulullah SAW bepergian bersama-sama Abu Thalhah dan isterinya. Ketika kembali dan akan masuk kota Madinah, Ummu Sulaim tidak bisa melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya saya sangat senang kalau keluar masuk kota bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk kota, ditahan di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian Ummu Sulaim berkata : “Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini hilang, maka mari kita berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Di sanalah kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia berkata : “Janganlah ada seorang pun yang menetekinya sebelum engkau bawa kepada Rasulullah SAW” Maka pada pagi harinya saya membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah SAW kemudian Rasulullah menyuapkan makanan yang telah dikunyah dan bayi itu diberi nama “Abdullah”.

22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Yang dikatakan orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Tetapi, yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

23. Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk bersama Nabi SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling memaki, salah seorang di antara mereka merah mukanya dan pertikaian hampir terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila kalimat itu dibaca niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi ; yaitu apabila ia membaca : “A’UUDZU BILLAAHI MINASYSYAITHAANIRRAJIIM “ ( saya berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ), niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi.” Maka para sahabat mengatakan kepada orang yang sedang bertengkar itu : “Sesungguhnya Nabi SAW menyuruh kalian supaya berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)

24. Dari Mu’adz bin Anas ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa saja yang menahan marah padahal sebenarnya ia bisa untuk melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT. akan memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia disuruh untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang diinginkannya .” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

25. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang berkata kepada Nabi SAW : “Nasihatilah aku!” Beliau bersabda : “Janganlah kamu marah ! “ Orang itu berkali-kali minta nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap menjawabnya : “Janganlah kamu marah !” (HR. Bukhari)

26. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW, bersabda : “Orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya, anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah Ta’ala tanpa membawa dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)

27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Uyainah bin Hishn datang, ia menginap di tempat kemenakannya Al Hurr bin Qais, ia termasuk orang yang dekat dengan Umar ra. dan Umar memang mengangkat orang-orang yang pandai di dalam Al-Qur’an sebagai kawan duduk dan kawan bermusyawarah, baik tua maupun muda. Uyainah berkata kepada kemenakannya : “Wahai kemenakanku kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan izin agar saya dapat menghadap kepadanya !” Kemudian kemenakannya memintakan izin, Umar pun mengizinkan. Ketika Uyainah masuk ia berkata : “Wahai putra Al- Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap kami dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka marahlah Umar dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-Hurr berkata kepada Umar : “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya SAW : “Berikanlah maaf, suruhlah untuk berbuat baik dan janganlah kamu hiraukan orang-orang yang bodoh .” Dan sebenarnya orang ini adalah termasuk orang yang bodoh. Demi Allah, ketika ayat ini dibaca, Umar seakan-akan belum pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang sangat teliti terhadap kitab Allah Ta’ala. “ (HR. Bukhari)

28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda : “Sepeninggalanku akan ada orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan ada pula hal-hal yang diingkarinya.” Para sahabat bertanya : “Wahai …Rasulullah, apa yang harus kami lakukan ?” Beliau menjawab : “Kamu harus menyampaikan kebenaran yang kamu ketahui dan memohonlah kepada Allah agar mendapatkan hakmu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

29. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada seorang sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memperkerjakanku sebagaimana engkau telah memperkerjakan si Fulan ?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya sepeninggalku nanti kamu akan mendapatkan orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah kamu sampai bertemu denganku di dekat Telaga Kautsar .” (HR. Bukhari dan Muslim)

30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra., dikatakan kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh sehingga matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di tengah-tengah para sahabat seraya bersabda : “Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta sabarlah. Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”(Maksudnya dengan jalan jihad fi sabilillah). Kemudian Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mengalahkan musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iklan
Kategori:Bab Sabar