Archive

Archive for the ‘Bab Perintah Menunaikan Amanah’ Category

Perintah Menunaikan Amanah

Oktober 30, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu : apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia berkhianat.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Walaupun ia berpuasa dan mengerjakan salat serta mengaku bahwa dirinya muslim.”

2. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bercerita tentang dua peristiwa ; yang pertama saya sudah mengetahui kenyataannya, sedangkan yang kedua itu saya masih menunggunya. Pertama beliau bercerita bahwa amanat itu datang ke lubuk hati manusia, kemudian turunlah Al –Qur’an maka mereka mau mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kedua, beliau menceritakan tentang dicabutnya amanat, yaitu : “Ada seseorang laki-laki yang sedang tidur kemudian dicabutlah amanat itu dari hatinya, sehingga sisa sedikit saja, kemudian ia tidur lagi maka tercabut pula sisa amanat itu, dan yang ada hanya bekasnya seperti bara api yang terinjak telapak kaki dan menimbulkan bengkak, sedangkan kamu melihat bahwa di situ tidak ada apa-apa.” Sambil memberi contoh, beliau lalu mengambil batu kecil dan diinjak dengan kakinya. Setelah itu orang-orang seperti biasanya (berjual beli), tetapi tidak terdapat lagi orang-orang yang jujur (amanat). Sehingga kalau ada seseorang yang dapat dipercaya dan mendapat pujian : Alangkah sabarnya, alangkah cerdiknya, dan alangkah pandainya, padahal menurut beliau di dalam hatinya tidak sedikitpun terselip keimanan walau sebesar biji sawi.” Hudzaifah berkata : “Sungguh saya telah mengalami suatu masa, di mana saya tidak memilih orang dalam ber-bai’at, bila ia seorang muslim, ia patuh dan ta’at pada agamanya. Apabila ia Nasrani atau Yahudi, ia takut kepada hukum negara. Adapun kini, saya tidak bisa mempercayai dalam berbai’at kecuali kepada si fulan dan si fulan.” (HR.Bukhari dan Muslim)

3. Dari Hudzaifah dan Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Allah Yang Maha Memberi Berkah lagi Maha Tinggi, kelak akan mengumpulkan manusia, kemudian orang- orang mukmin berdiri di dekat surga. Mereka lalu mendatangi Nabi Adam as. dan berkata : “Wahai bapak kami, bukakan pintu surga ini untuk kami.” Beliau menjawab : “Bukankah yang mengeluarkan kalian dari surga adalah dosa bapakmu? Datanglah kepada Ibrahim Khalillullah.” Merekapun mendatanginya, tetapi beliau menjawab : “Itu bukan hak-ku, aku hanyalah khalillullah (kekasih Allah) dan berada di belakang sekali, datanglah kepada Musa! Karena Allah berfirman langsung kepadanya.” Merekapun mendatanginya, tetapi beliau menjawab: “Itu bukan hak-ku. Datanglah kepada Nabi Isa Kalimah dan Ruhullah ! “ Maka Isapun menjawab : “Itu bukan bagianku.” Kemudian mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW, dan diminta untuk membuka pintu surga, beliau berdiri dan diizinkan untuk membukanya, kemudian dilepaskanlah amanat dan kasih sayang dan keduanya itu berada di kanan kiri beliau sebagai titian menuju ke surga. Beliau bersabda : “Orang pertama yang melewatinya, berjalan secepat kilat.” Hudzaifah bertanya : “Apakah ada yang berjalan secepat kilat ?” Beliau menjawab : “Bukankah kalian dapat membayangkan bagaimana berjalan hanya sekejap mata ? Kemudian ada seseorang yang melewatinya bagaikan terbangnya burung dan ada pula yang melintasinya bagaikan orang yang berlari kencang sekali. Semua itu, menurut beliau, tergantung amal perbuatan mereka.” Sedangkan Nabi Muhammad SAW berdiri di atas shirat (titian) seraya berdoa : “Wahai Tuhanku, selamatkanlah-selamatkanlah.” Sehingga sampai pada giliran orang-orang yang amal baiknya sedikit bahkan sampai datang seseorang yang tidak bisa berjalan melainkan dengan merangkak. Dan di antara kedua tepi shirat (titian), tergantung alat-alat yang dibuat dari besi, dan bertugas mengambil orang-orang yang harus diambilnya. Di antaranya ada orang yang terluka tetapi selamat dan ada pula orang- orang yang dicakar-cakarnya lalu dilemparkan ke dalam api neraka.” Menurut Abu Hurairah : “Sesungguhnya dasar neraka Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.” (HR.Muslim)

4. Dari Abu Khubaib Abdullah bin Az-Zubair bin Al-Awwam Al- Qurasyi ra., ia berkata : “Tatkala Az-Zubair (ayahku) berdiri pada perang Jamal, ia memanggilku maka akupun berdiri di sampingnya. Ia berkata : “Hai anakku, sesungguhnya hari ini tidak ada yang terbunuh kecuali orang yang menganiaya atau teraniaya. Saya merasa hari ini saya akan dibunuh teraniaya, dan yang paling saya takuti adalah hutang saya, apakah kamu menyadari bahwa hutang itu akan meninggalkan sisa dari harta kekayaan kita ?” Kemudian ia berkata : “Hai anakku, juallah semua harta benda yang kita miliki dan lunasilah hutangku itu !” Juga berwasiat, bahwa sepertiga dari hartanya, sedang sepertiganya dari sepertiga itu diwasiatkan untuk cucu-cucunya yakni untuk anak-anak Abdullah bin Az- Zubair. Anak-anak az-Zubair waktu itu ada delapan belas orang, sembilan laki-laki dan sembilan perempuan. Menurut Abdullah : Az-Zubair selalu berwasiat untuk melunasi hutangnya. Ia berkata : “Hai anakku, seandainya kamu tidak mampu untuk melunasinya, maka hendaklah memohon pertolongan kepada Pemimpinku.” Abdullah berkata : “Demi Allah saya tidak mengetahui apa yang dimaksud olehnya, sehingga saya berkata : “wahai ayahku siapa Pemimpinmu?” Ia menjawab : “Allah.” Abdullah berkata : “Maka demi Allah, seandainya saya mengalami kesulitan dalam melunasi hutangnya saya berdoa : “Wahai Pemimpin Zubair , lunaskanlah hutangnya.” Akhirnya ia dapat melunasi hutangnya. Abdullah mengatakan : “Setelah itu terbunuhlah Az-Zubair, dan ia tidak meninggalkan dinar ataupun dirham, kecuali beberapa bidang tanah di Ghobah, sebelas buah rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, satu buah rumah di Kufah dan sebuah rumah di Mesir. Hutang itu disebabkan seseorang yang datang dengan membawa harta dan menitipkan kepadanya, kemudian Az- Zubair berkata : “Tidak, saya tidak senang dititipi, khawatir kalau hilang, tetapi saya hutang saja.” Sebenarnyalah Az- Zubair tidak pernah menjadi petugas penarik pajak, dan ia selalu ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Ustman ra. Lanjutnya, setelah saya hitung ternyata saya mempunyai hutang dua juta dua ratus ribu.” Kali tertentu Abdullah bin Hizam bertemu dengan Abdullah bin Az-Zubair dan berkata : “Wahai keponakanku, berapakah hutang saudaraku?” Saya sembunyikan dan saya mengatakan : “Seratus ribu.” Hakim berkata : “Demi Allah, saya tidak tahu apakah engkau dapat melunasinya ?” Abdullah berkata : “Bagaimana pendapatmu apabila hutangnya mencapai dua juta dua ratus ribu ?” Ia menjawab : “Saya tidak tahu apakah kamu dapat melunasinya atau tidak, jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah bantuan kepadaku.” Menurut Abdullah : “Az-Zubair dulu membeli tanah Al-Ahobah seharga seratus tujuh puluh ribu.” Abdullah bermaksud untuk menjualnya seharga satu juta enam ratus ribu, kemudian ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang menghutangi Az- Zubair, maka saya akan melunasinya, dan datanglah kepada kami di Ghobah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far ra., ia menghutangi Zubair sebanyak empat ratus ribu, dan ia berkata kepada Abdullah : “Kalau kamu mau, saya tidak akan menagihnya kepadamu.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau kamu suka, lunasilah belakangan.” Abdullah bin Zubair berkata : “Tidak.” Abdullah bin Ja’far menjawab : “Abdullah bin Ja’far berkata : “Kalau begitu berilah saya sebagian tanah di Ghobah ini.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau begitu, kamu mendapat bagian dari sini sampai sini.” Abdullah kemudian menjual sisa hutan itu untuk melunasi hutang ayahnya dan masih tersisa empat setengah bagian. Kemudian ia datang ke tempat Mu’awiyah. Waktu itu di tempat Mu’awiyah ada beberapa orang, yaitu ‘Amr bin Utsman, Al-Mundzir bin Zubair dan Ibnu Zam’ah. Mu’awiyah pun bertanya kepada Abdullah : “Hutan itu dijual berapa?” Abdullah menjawab : “Setiap bagian seratus ribu.” Mu’awiyah bertanya : “Masih tersisa berapa ?” Abdullah menjawab : “Masih tersisa empat setengah bagian.” Al-Mundzir bin Zubair berkata : “Kalau begitu saya mengambil sebagian dengan harga seratus ribu.” Demikian pula dengan Ibnu Zam’ah : “Saya mengambil sebagian dari seratus ribu.” Kemudian Mu’awiyah bertanya : “Masih sisa berapa ?” Abdullah menjawab : “Masih tersisa satu setengah bagian.” Mu’awiyah berkata : “Saya yang mengambilnya dengan harga seratus lima puluh ribu.” Kemudian Abdullah bin Ja’far menjual bagiannya kepada Mu’awiyah dengan harga enam ratus ribu. Setelah Abdullah bin Zubair selesai melunasi hutang ayahnya, maka putri-putri Az-Zubair berkata : “Bagilah warisan kami.” Abdullah menjawab : “Demi Allah, saya membagi untuk kalian sebelum empat tahun, sebab pada setiap musim, saya akan menyiarkan siapa saja yang menghutangi Zubair hendaknya datang kepada kami, dan kami pasti akan melunasinya. Demikianlah, pada setiap tahunnya Abdullah menyiarkannya. Sesudah melewati empat tahun maka Abdullah membagi harta warisan itu dan mengambil sepertiga yang diwasiatkan. Dan Az-Zubair meninggalkan empat istri, masing-masing mendapat bagian satu juta dua ratus ribu. Jadi semua kekayaan Az-Zubair berjumlah lima puluh juta dua ratus ribu.” (HR.Bukhari)