Archive

Archive for the ‘Bab Mendamaikan Orang yang Bersengketa’ Category

Mendamaikan Orang yang Bersengketa

November 1, 2010 Tinggalkan komentar

1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda : “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari, (sebagai pernyataan syukur kepada Allah atas keselamtan tulang-tulangnya. Dan macam sedekah itu banyak sekali), di antaranya berlaku adil di antara dua orang yang bersengketa, membantu teman ketika menaiki tunggangannya atau menaikkan barang temannya ke punggung tunggangannya, ucapan yang baik, setiap langkah yang kamu ayunkan untuk melakukan salat adalah sedekah dan menyingkirkan sesuatu yang merugikan di jalan, juga sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’aith ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Bukan pendusta orang yang mendamaikan orang yang sedang bersengketa, karena ia bermaksud baik atau berkata baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim ada tambahannya, yaitu : Ummu Kultsum berkata : “Saya tidak pernah mendengar beliau membolehkan orang berkata dusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: Di dalam peperangan, dalam mendamaikan orang yang sedang bersengketa dan seseorang yang menceritakan keadaan istri atau suaminya (untuk menjaga hubungan baik keduanya).

3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mendengar suara orang yang bertengkar amat keras di depan pintu. Salah satunya ada yang meminta keringanan (hutang) dan meminta bantuan kepada yang lain, tetapi yang mengutangi menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan memenuhi permintaanmu.” Kemudian Rasulullah SAW keluar dan mendekati keduanya dan bertanya : “Mana yang bersumpah dengan nama Allah untuk tidak akan berbuat kebaikan?” Ia menjawab : “Saya wahai Rasulullah.” Maka bagi orang itu apa saja yang disukainya.” (HR. Bukhari dan Muslim) hlm. 274 1 (terjemahannya apakah salah ?) Meminta untuk dikurangi hutangnya dengan cara yang baik. 1 Sesungguhnya Allah melarang mempergunakan nama Allah untuk menghalangi berbuat kebaikan. Sebagaimana firman- Nya yang artinya : “Janganlah kamu menjadikan nama Allah, sebagai penghalang dalam sumpahmu tidak akan berbuat kebaikan, dan takwa atau mendamaikan di antara manusia.”

4. Dari Abu Abbas Sahl bin Sa`idiy ra. , ia berkata :” Rasulullah SAW mendengar berita, bahwa di kalangan Bani `Amr bin `Auf terjadi persengketaan, maka Rasulullah SAW, bersama beberapa sahabat pergi ke sana untuk mendamaikan mereka. Setelah selesai mendamaikan beliau dijamu padahal waktu salat telah tiba, maka Bilal datang kepada Abu Bakar ra., dan berkata : “ Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah SAW, sedang ditahan untuk dijamu oleh Bani`Amr, bagaimana jika kamu menjadi imam bagi orang-orang yang akan mengerjakan salat?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah, jika kamu menghendaki demikian.” Kemudian Bilal mengumandangkan iqamah, lalu Abu Bakarpun maju dan bertakbir, dan orang-orangpun ikut bertakbir. Tiba-tiba Rasulullah datang berjalan di tengah-tengah shaf dan berdiri pada shaf pertama. Orang-orang bertepuk tangan memberikan isyarat, tetapi Abu Bakar tidak menoleh di dalam salatnya. Ketika orang-orang ramai bertepuk memberi isyarat iapun menoleh dan melihat Rasulullah SAW. Beliaupun memberi isyarat kepadanya agar ia meneruskan salatnya, tetapi Abu Bakar ra. mengangkat tangannya seraya memuji Allah dan melangkah mundur sehingga ia berdiri pada shaf pertama. Rasulullah SAW lalu maju dan meneruskan salatnya menjadi imam. Setelah salat usai, beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Wahai sekalian manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu di dalam salat kalian bertepuk tangan? Padahal tepuk tangan itu untuk perempuan yang memberi isyarat. Siapa saja yang mengalami sesuatu di dalam salat hendaklah ia membaca: “SUBHANALLAH” (Maha Suci Allah). Dan bagi imam jika mendengar bacaan “SUBHANALLAH” hendaklah ia menoleh. Hai Abu Bakar, mengapa engkau tidak meneruskan menjadi imam ketika aku memberikan isyarat kepadamu?” Abu Bakar menjawab: “Tidaklah selayaknya bagi anak Abu Quhafah untuk menjadi imam di hadapan Rasulullah SAW (HR. Bukhari dan Muslim)