Beranda > Bab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar > Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Oktober 30, 2010

1. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja di antara kalian melihat kem unkaran, maka ubahlah dengan tangannya, apabila ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya, bila ia tidak mam pu, ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah paling lemahnya iman.” (HR.Muslim)

2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Nabi-nabi yang diutus sebelumku pasti didam pingi sahabat- sahabat yang setia. Mereka mengikuti sunnahnya dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Sesudah mereka, muncullah orang-orang yang suka berbicara dan tidak suka beramal, mereka berbuat sesuatu yang tidak diperintahkan. Siapa saja yang memerangi mereka dengan tangannya (kekuasaannya), maka ia adalah orang yang beriman, siapa saja yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia adalah orang yang beriman dan siapa saja yang memerangi mereka dengan hatinya, maka ia juga orang yang beriman. Selain dari itu, maka tidak ada lagi iman walaupun sebesar biji sawi.” (HR.Muslim)

3. Dari Abul Walid ‘Ubadah bin Shamit ra., ia berkata : “Kami berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk selalu mendengar dan taat, baik dalam kesusahan maupun dalam kesenangan, baik pada yang disenangi maupun yang dibenci, bahkan terhadap perebutan kekuasaan atas kami, dan kami berbai’at pula untuk tidak menentang pemerintahan dari yang berhak kecuali terbukti adanya pelanggaran yang jelas sesuai adanya dalil-dalil yang datangnya dari Allah Ta’ala, serta kami berbai’at untuk selalu berkata benar di mana saja kami berada. Kami tidak takut terhadap celaan siapapun dalam membela (agama) Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

4. Dari Nu’man bin Basyir ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Perumpamaan orang yang selalu melaksanakan hukum- hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya (Salah dalam memahami atau mempergunakannya), bagaikan orang yang membagi tempat di dalam kapal, sebagian mendapat bagian di atas dan sebagian di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah membutuhkan air, mereka harus naik ke atas, tentunya akan mengganggu orang yang di atas. Sehingga (yang di bawah) berkata : “Kami akan melubangi kapal ini agar tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas.” Jika yang di atas membiarkan hal itu, niscaya semuanya akan binasa, tetapi jika yang di atas menyadari dan mencegah mereka yang di bawah, maka semua akan selamat.” (HR.Bukhari)

5. Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa penguasa dan kalian akan mengetahui kemunkarannya. Maka siapa saja yang benci bebaslah ia, dan siapa saja yang mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang senang dan mengikuti, maka tersesatlah ia.” Para sahabat bertanya : “Apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka masih mengerjakan salat bersamamu.” (HR.Muslim)

6. Dari Ummul Mukminin Ummul Hakam Zainab binti Jahsy ra., ia berkata : “Nabi SAW masuk ke rumah dengan perasaan cemas seraya bersabda : “Tidak ada Tuhan selain Allah, hendaknya bangsa Arab harus selalu waspada terhadap bencana yang hampir menimpanya, di mana saat ini telah terbuka tirai Ya’juj dan Ma’juj sebesar ibu jari. Saya bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sedangkan di tengah-tengah kami banyak orang-orang yang berbuat kebajikan ?” Beliau menjawab : “Ya, apabila kejahatan merajalela.” (HR.Bukhari dan Muslim)

7. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan !” Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah kami tidak bisa meninggalkan tempat- tempat itu, karena di tempat itulah kami membicarakan sesuatu.” Rasulullah SAW bersabda : “Apabila kalian merasa tidak bisa untuk meninggalkan duduk-duduk di sana, maka penuhilah hak jalan itu.” Para sahabat bertanya : “Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Memejamkan mata, tidak mengganggu, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar .” (HR.Bukhari dan Muslim)

8. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW melihat cincin emas yang dipakai oleh seseorang, kemudian beliau melepas dan membuangnya seraya bersabda : “Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api dan meletakkan di tangannya !” Setelah Rasulullah SAW pergi, ada seseorang yang berkata kepadanya : “Ambillah cincinmu dan manfaatkan.” Ia menjawab : “Tidak, demi Allah saya tidak akan mengambil cincin itu selamanya, karena Rasulullah SAW telah membuangnya .” (HR. Muslim)

9. Dari Abu Sa’id Al-Hasan Al-Bashriy, ia berkata : ‘Aidz bin ‘Amr ra. datang ke rumah ‘Ubaidillah bin Ziyad kemudian ia berkata : Hai anakku, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sejahat-jahat pemimpin adalah pemimpin yang kejam, maka janganlah kamu termasuk golongan mereka.” Kemudian ‘Ubaidillah berkata kepadanya : “Duduklah, sesungguhnya kamu hanyalah sahabat Muhammad yang terbuang.” Ia pun bertanya : “Apakah ada di antara sahabat- sahabat beliau yang terbuang ? Sesungguhnya yang terbuang adalah mereka yang hidup sesudah para sahabat dan orang- orang yang bukan sahabat .” (HR.Muslim)

10. Dari Hudzaifah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seharusnyalah kalian menyuruh untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang munkar. Jika tidak, sungguh Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, kemudian kamu berdoa kepada-Nya, tetapi ia tidak mengabulkan doamu.” (HR.Tirmidzy)

11. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Paling utamanya jihad adalah mengatakan keadilan di hadapan penguasa yang menyeleweng.” (HR.Abu Daud dan Tirmidzy)

12. Dari Abu Abdullah Thariq bin Syihab Al-Bajaliy Al- Ahmasiy ra., ia berkata : Sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW padahal ia sudah meletakkan kakinya di atas pelana : ‘Wahai Rasulullah, jihad apa yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Mengatakan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.” (HR.An-Nasa’i)

13. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Penyebab pertama terjadinya kerusakan pada Bani Israel yaitu, apabila seseorang bertemu dengan kawannya berbuat sesuatu yang dilarang Allah, ia berkata : “Hai kawanku, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang kamu lakukan ini.” Akan tetapi keesokan harinya, ia bertemu kembali, dan kawannya sedang melakukan perbuatan itu lagi, tetapi ia tidak mengingatkan bahkan menemaninya untuk makan, minum, dan duduk-duduk. Jika mereka telah berbuat seperti itu, maka Allah mengunci hati masing-masing dari mereka. Rasulullah pun kemudian membacakan ayat Al-Qur’an yang artinya : “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang selalu mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” Kemudian beliau bersabda pula : “Janganlah kalian seperti mereka. Demi Allah, kalian harus selalu mengajak untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan munkar, segahlah orang yang berbuat aniaya dan kembalikanlah ia ke jalan yang benar serta batasilah diri dalam mengajak kepada kebenaran! Tidak, Allah pasti akan mengunci hati kalian, kemudian Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Bani Israil. “ (HR.Abu Daud dan Tirmidzy)
Hadis di atas adalah hadis menurut lafalnya Abu Daud, adapun menurut lafal yang disampaikan Tirmidzy : Rasulullah SAW menceritakan tentang keadaan Bani Israil, yaitu : “Ketika orang- orang Bani Israil tenggelam dalam kemaksiatan, maka ulama-ulama mereka memperingatkannya, namun mereka tidak mau berhenti. Akhirnya para ulama itu ikut serta dalam majelis mereka, makan dan minum yang dilarang Allah. Maka Allah SWT. menutup hati mereka melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa putera Maryam. Hal itu disebabkan karena mereka durhaka dan senantiasa melampui batas. “ Rasulullah yang tadinya bersandar kemudian duduk seraya bersabda : “Janganlah kalian berbuat demikian, demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian luruskan mereka ke jalan yang benar.”

14. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ia berkata : “Wahai manusia, hendaknya kalian membaca ayat ini: “YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU ‘ALAIKU, ANFUSAKUM LAA YADHURRUKUM MAN DHALLA IDZAHTADAITUM” (Hai orang- orang yang beriman, jagalah dirimu ; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk) . Dan sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya apabila orang-orang melihat orang yang bertindak aniaya kemudian mereka tidak mencegahnya, maka kemungkinan besar Allah akan meratakan siksaan kepada mereka, disebabkan perbuatan tersebut . “ (HR.Abu Daud, Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Iklan
%d blogger menyukai ini: